Thursday, 24 September 2026

PENILAIAN ANUGERAH GAPURA SRI BADUGA, RW 14 PEKAYON TUNJUKAN INOVASI PEMANFAATAN LAHAN DAN KEKOMPAKAN WARGA.

Harian umum warta daerah online

Ketua TP PKK Kota Bekasi Wiwiek Hargono Tri Adhianto bersama Wakil Ketua TP PKK Kota Bekasi dan tim penilai dari TP PKK Kota Bekasi serta Dinas Tata Pemerintahan melakukan kunjungan lapangan dalam rangka verifikasi Lomba Anugerah Gapura Sri Baduga, Rabu (23/9/2025), di Kelurahan Pekayon, Kecamatan Bekasi Selatan.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari tahapan verifikasi lapangan untuk melihat secara langsung berbagai program dan inovasi yang sebelumnya telah dipresentasikan oleh wilayah peserta. Dalam kunjungan ini, tim penilai melihat berbagai potensi masyarakat, mulai dari pengembangan UMKM, ketahanan pangan, pemanfaatan lingkungan, pengelolaan sampah, hingga kekompakan warga dalam membangun lingkungan.

Di Kelurahan Pekayon, tim penilai mengunjungi sejumlah UMKM hasil kreativitas masyarakat yang telah menghasilkan berbagai produk, di antaranya batik, kaos dengan motif hasil jahitan, aksesoris, hingga produk tas berbahan rotan.

Dalam kesempatan tersebut, Wiwiek Hargono juga mendorong agar potensi pelaku UMKM di tingkat kelurahan dapat terus dikembangkan. Bersama lurah dan camat setempat, masyarakat diajak untuk mengidentifikasi dan mengajak para pelaku usaha yang memiliki potensi agar dapat mendaftarkan produknya sebagai binaan Dekranasda Kota Bekasi.

Langkah tersebut diharapkan dapat membuka peluang bagi para pelaku usaha untuk mendapatkan pendampingan sekaligus memperluas pengembangan produk kerajinan dan usaha kreatif masyarakat.

Kunjungan kemudian dilanjutkan ke salah satu posko RW yang turut dimanfaatkan sebagai lokasi kegiatan Kelompok Wanita Tani (KWT). Di lokasi tersebut terdapat sebanyak 57 tanaman, yang terdiri dari tanaman konsumsi dan tanaman obat.

Semangat ketahanan pangan juga diterapkan melalui gerakan di lingkungan RW 14 yang mendorong setiap rumah warga untuk menanam sedikitnya lima tanaman. Selain untuk memperindah lingkungan, gerakan tersebut bertujuan agar masyarakat memiliki sumber pangan dan tanaman obat yang dapat dimanfaatkan dari lingkungan rumah masing-masing.

KWT di wilayah tersebut juga telah menjalin kerja sama dengan Pandan Wangi dalam menyuplai hasil tanaman, baik tanaman konsumsi maupun tanaman obat yang dihasilkan oleh masyarakat.

Selanjutnya, tim penilai mengunjungi salah satu rumah percontohan rumah sehat yang menerapkan pemanfaatan lingkungan secara produktif. Sampah organik diolah menjadi eco-enzyme, sementara lahan di sekitar rumah dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis tanaman.

Beragam tanaman telah berhasil dibudidayakan dan beberapa di antaranya telah berulang kali dipanen, seperti mangga, pisang, jeruk bali, duku, kacang panjang, terong, pare, serta berbagai jenis rempah-rempah. Pemilik rumah juga memanfaatkan area yang tersedia untuk memelihara ikan lele yang sebagian hasilnya dikonsumsi sendiri.

Kunjungan juga melihat kekompakan warga RW 14 dalam menciptakan ruang publik yang dapat dimanfaatkan bersama. Salah satunya dengan memanfaatkan area gang sebagai perpustakaan warga yang dibuka setiap hari dan menjadi tempat berkumpul masyarakat.

Lingkungan tersebut juga dipercantik dengan mural yang dibuat oleh warga pada dinding-dinding sekitar. Kreativitas warga, termasuk para bapak-bapak dan hansip, turut terlihat dalam membuat serta mempercantik fasilitas lingkungan melalui pemanfaatan barang-barang bekas.

Keterampilan tersebut kemudian turut dibagikan kepada para ibu sebagai salah satu upaya mengembangkan kreativitas sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi dari barang-barang yang sebelumnya tidak terpakai.

Ketua TP PKK Kota Bekasi Wiwiek Hargono Tri Adhianto mengapresiasi kekompakan masyarakat Kelurahan Pekayon, khususnya warga RW 14 yang mampu mengembangkan berbagai kegiatan secara bersama-sama.

"Yang menarik dari Pekayon adalah bagaimana warga bisa bergerak bersama. Tidak hanya menanam tanaman konsumsi dan tanaman obat, tetapi juga memanfaatkan lahan yang ada, mengelola lingkungan, membuat ruang untuk berkumpul, sampai mengembangkan kreativitas dari barang-barang yang sudah tidak terpakai,” ujar Wiwiek.

Menurut Wiwiek, kekompakan masyarakat menjadi modal penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat, produktif dan memiliki nilai ekonomi.

"Ketika warga kompak, hal-hal sederhana bisa menjadi sesuatu yang memberikan manfaat besar. Lima tanaman dari setiap rumah kalau dilakukan bersama-sama tentu bisa menjadi kekuatan untuk ketahanan pangan lingkungan. Begitu juga dengan UMKM dan kreativitas warga, tinggal bagaimana kita terus dampingi dan membuka akses agar potensinya bisa berkembang,” tambahnya.

Wiwiek juga mendorong agar berbagai potensi UMKM yang ditemukan dalam kunjungan tersebut dapat terus didata dan dikembangkan sehingga memiliki kesempatan menjadi bagian dari binaan Dekranasda Kota Bekasi. (Yoyo)

DARI LIMBAH JADI MANFAAT, WARGA BEKASI BARAT CIPTAKAN BERAGAM INOVASI BERNILAI EKONOMI.

Harian umum warta daerah online


Ketua TP PKK Kota Bekasi Wiwiek Hargono Tri Adhianto bersama Wakil Ketua TP PKK Kota Bekasi dan tim penilai dari TP PKK Kota Bekasi serta Dinas Tata Pemerintahan melakukan kunjungan lapangan dalam rangka Lomba Anugerah Gapura Sri Baduga, Rabu, 23 September 2025, di wilayah Kecamatan Bekasi Barat.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses verifikasi lapangan terhadap berbagai program dan inovasi yang sebelumnya telah dipaparkan dalam tahapan presentasi. Melalui kunjungan ini, tim penilai melihat secara langsung implementasi berbagai program pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam pemanfaatan ruang, pengelolaan lingkungan, serta pengolahan limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan ekonomi.

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah area ruang kosong di lingkungan kelurahan yang dimanfaatkan untuk penanaman berbagai bibit tanaman melalui Kelompok Wanita Tani (KWT). Pemanfaatan lahan tersebut menjadi salah satu bentuk upaya masyarakat dalam mengoptimalkan ruang yang tersedia sekaligus mendukung penghijauan dan ketahanan pangan di lingkungan.

Tim kemudian melihat kegiatan pengolahan eco-enzyme berbahan dasar limbah organik. Hasil pengolahan tersebut dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi berbagai produk, mulai dari sabun, kerajinan, hingga produk yang digunakan untuk kebutuhan kecantikan seperti lotion dan parfum. Bahkan, eco-enzyme juga dikembangkan untuk kebutuhan kesehatan dan terapi, salah satunya melalui pemanfaatannya sebagai bahan pada bantal terapi.

Kunjungan berlanjut ke lokasi budidaya ikan nila milik warga yang memanfaatkan area sederhana di lingkungan rumah. Budidaya tersebut telah berkembang dan menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat, dengan hasil produksi sekitar 15 kilogram ikan setiap bulan yang dipasarkan kepada warga sekitar.

Inovasi pengelolaan lingkungan juga terlihat dalam pemanfaatan limbah cair dari industri tempe. Bekerja sama dengan Universitas Pertamina, masyarakat mengolah limbah cair industri tempe menjadi gas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh warga. Saat ini, pemanfaatan tersebut telah digunakan oleh sekitar empat kepala keluarga dan menjadi salah satu contoh pengelolaan limbah yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Selain dimanfaatkan sebagai sumber energi, hasil pengolahan limbah tersebut juga dapat digunakan sebagai bahan pupuk cair untuk mendukung kegiatan perkebunan masyarakat. Di lokasi yang sama, tim penilai juga melihat budidaya ikan lele yang turut dikembangkan warga dengan hasil panen mencapai sekitar 50 kilogram.

Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Di tempat tersebut, tim melihat berbagai kreativitas para guru dalam memanfaatkan bahan bekas menjadi dekorasi ruang kelas. Salah satunya berupa dekorasi berbentuk pohon yang menjuntai dan dibuat dari material bekas, sekaligus berbagai hasil kerajinan lainnya.


Ketua TP PKK Kota Bekasi Wiwiek Hargono Tri Adhianto mengapresiasi kreativitas dan inisiatif masyarakat dalam mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai menjadi sesuatu yang dapat memberikan manfaat.

“Yang kami lihat hari ini bukan hanya bagaimana masyarakat memanfaatkan ruang yang ada, tetapi juga bagaimana limbah dan barang yang sudah tidak terpakai dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ada yang menjadi produk rumah tangga, produk kecantikan, pupuk, sumber energi, bahkan mendukung kegiatan ekonomi masyarakat,” ujar Wiwiek.

Menurutnya, berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dari lingkungan paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan limbah, menurut Wiwiek, juga dapat berjalan beriringan dengan peningkatan nilai ekonomi apabila dilakukan secara kreatif dan berkelanjutan.

"Harapannya, inovasi seperti ini tidak berhenti sebagai sebuah program atau perlombaan saja, tetapi dapat terus dikembangkan dan menjadi kebiasaan masyarakat. Ketika lingkungan lebih terkelola, limbah bisa dimanfaatkan, dan masyarakat juga mendapatkan nilai ekonomi, tentu manfaatnya menjadi lebih luas,” tambahnya.

Kegiatan verifikasi lapangan Anugerah Gapura Sri Baduga ini menjadi kesempatan bagi tim penilai untuk melihat secara langsung keberlanjutan berbagai inovasi yang telah dipaparkan sebelumnya, sekaligus menggali potensi pengembangan program di tengah masyarakat.

Melalui berbagai praktik tersebut, masyarakat tidak hanya didorong untuk menjaga kebersihan dan lingkungan, tetapi juga untuk menciptakan siklus pemanfaatan kembali sumber daya yang dapat memberikan manfaat sosial, lingkungan, dan ekonomi secara bersamaan. (Yoyo)

KETUA RW DUKUNG WALI KOTA BEKASI, BERKANTOR DI LINGKUNGAN WARGA DAN MEMINTA DINAS IKUT HADIR.

Harian umum warta daerah online

Ketua RW Dukung Wali Kota Bekasi Berkantor di Lingkungan Warga, Minta Dinas Ikut Hadir.

Banjir Dukungan Rencana Walikota Ngantor di RW, Ketua RW: Ini Moment yang Harus Dimanfaatkan.

Rencana Wali Kota Bekasi Tri Adhianto berkantor di setiap Rukun Warga (RW) mulai Januari 2027 mendapat dukungan dari sejumlah ketua RW. Mereka menilai langkah tersebut dapat memperkuat komunikasi antara pemerintah dan masyarakat sekaligus membuka peluang percepatan penanganan persoalan di lingkungan.

Dukungan itu disertai sejumlah masukan terkait kesiapan pelaksanaan, mulai dari kepastian jadwal kunjungan, fasilitas tempat berkantor, hingga keterlibatan perangkat daerah agar aspirasi warga dapat ditindaklanjuti secara langsung.

Ketua RW 01 Kelurahan Bekasi Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Wage Tirta, yang juga menjabat sebagai Ketua FKRW Bekasi Jaya, menyambut positif rencana tersebut. Ia menilai kepastian jadwal menjadi salah satu hal penting agar pengurus RW dan masyarakat dapat mempersiapkan diri.

“Program ini sangat bagus. InsyaAllah kalau jadwalnya jelas tentu masyarakat kita bisa hadirkan untuk curhat langsung ke pak wali terkai dengan persoalan di wilayah,” ujar Wage.

Ia juga mengingatkan bahwa kondisi fasilitas di setiap RW berbeda, Menurutnya, sejumlah RW ada yang belum memiliki kantor RW sehingga perlu disiapkan alternatif lokasi yang layak agar agenda berkantor dapat berlangsung dengan nyaman dan tidak terkendala keterbatasan fasilitas.

Dukungan serupa disampaikan Ketua RW 13 Kelurahan Perwira, Kecamatan Bekasi Utara, Agustiono. Ia menyambut baik rencana Wali Kota berkantor, bahkan menginap di lingkungan RW, karena dinilai dapat membuka ruang komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat.

“Tidak semua warga punya waktu dan kesempatan untuk datang ke Balai Kota menyampaikan persoalan. Karena itu, ketika Pak Wali Kota datang ke lingkungan kami, masyarakat punya ruang lebih dekat untuk menyampaikan kebutuhan mereka. Ini kesempatan yang harus dimanfaatkan agar suara warga lebih mudah didengar.” ungkap Agustiono.

Ia berharap pertemuan langsung tersebut juga dapat membantu pengurus RW menyampaikan kebutuhan prioritas wilayah, termasuk dalam pelaksanaan program Lingkar Keren agar semakin sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, Ketua RW 02 Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondok Gede, Herry Mukti, mendorong agar agenda berkantor di RW turut melibatkan perangkat daerah terkait. Menurutnya, kehadiran dinas dapat membantu memperjelas penanganan persoalan yang membutuhkan koordinasi lintas instansi.

“Kami berharap beberapa perangkat daerah ikut mendampingi agar pelayanan kepada masyarakat bisa langsung ditindaklanjuti. Dinas terkait juga dapat melihat kondisi di lapangan, misalnya untuk pelayanan administrasi maupun perbaikan wilayah,” kata Herry.

"Kalau ada persoalan yang belum bisa diselesaikan saat kunjungan, setidaknya warga mendapat penjelasan mengenai proses, pihak yang menangani, dan perkembangan penyelesaiannya.” tambahnya.

Ia menilai koordinasi tersebut penting agar masyarakat memperoleh informasi yang jelas mengenai proses dan waktu penyelesaian layanan, sehingga pengurus RW tidak dibebani ekspektasi yang berada di luar kewenangannya.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto sebelumnya menyampaikan rencana berkantor di RW mulai Januari 2027. Langkah ini disiapkan untuk memperkuat komunikasi dengan masyarakat sekaligus melihat secara langsung berbagai persoalan di tingkat lingkungan.

Kehadiran Wali Kota di lingkungan warga juga menjadi kesempatan untuk melihat langsung bagaimana dana Rp100 juta per RW dalam program Lingkar Keren dimanfaatkan. Dengan begitu, pemerintah dapat mengetahui apakah kegiatan yang dipilih sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau masih ada persoalan penting yang perlu mendapat perhatian. (Yoyo)

Wednesday, 23 September 2026

WAWALI HARRIS BOBIHOE BORONG PRODUK UMKM, HASIL TANGAN TERAMPIL EMAK-EMAK.

Harian umum warta daerah online


KOTABEKASI - Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe berikan apresiasi kepada produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) hasil dari para emak-emak.

Wakil Wali Kota Abdul Harris Bobihoe memborong sejumlah produk UMKM dalam kesempatan dikegiatan Gerakan Ekonomi UMKM Gabungan Oerganisasi Wanita Kota Bekasi yang berlangsung di Taman Kota Alun- Alun M Hasibuan Bekasi Selatan.


“Bentuk apresiasi kepada emak-emak kita. Produk kuliner maupun kerajinannya patut kita acungi jempol. Membeli berarti mendorong perekonomian masyarakat kita,” ucap Pria berdarah Gorontalo itu

Produk UMKM yang dipamerkan, kata Bobihoe, tidak kalah dengan produk yang ada di swalayan maupun restoran.

“UMKM produknya tidak kalah dengan yang ada di swalayan maupun restoran, berbagai macam, kuliner hingga kerajinan tangan ada disini,” katanya sembari memilih dan menenteng produk UMKM

Ia juga mengatakan, pemerintah daerah terus mendorong kreativitas UMKM untuk semakin mengembangkan produk dan pasarnya.

“Pemerintah daerah, tentunya terus mendorong produk lokal kita bisa mendunia,di minati oleh bangsa-bangsa lain, dari segi kualitas produk kita mampu untuk go internasional, tentu kita sangat optimis,”tutup Wawali Abdul Harris Bobihoe. (Yoyo)

TRI ADHIANTO AJAK DUNIA USAHA, BERI RUANG BAGI PEKERJA DISABILITAS DI SEKTOR FORMAL.

Harian umum warta daerah online

Tri Adhianto Ajak Dunia Usaha Beri Ruang bagi Pekerja Disabilitas di Sektor Formal

Wali Kota Bekasi Dorong Dunia Usaha Buka Kesempatan Kerja bagi Disabilitas, MI-Caf 13% Jadi Inspirasi.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, mendorong dunia usaha di Kota Bekasi untuk semakin membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, termasuk di sektor formal. Menurutnya, keterbatasan fisik tidak boleh menjadi penghalang bagi seseorang untuk memperoleh pekerjaan, mengembangkan kemampuan, dan meraih kemandirian ekonomi.

Hal tersebut disampaikan saat memberikan apresiasi kepada MI-Caf 13%, sebuah usaha kuliner yang memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk bekerja, mengembangkan keterampilan, sekaligus membangun kepercayaan diri.

Kehadiran MI-Caf 13% menunjukkan bahwa kesempatan yang tepat dapat membuka jalan bagi penyandang disabilitas untuk berkontribusi secara nyata. Melalui aktivitas usaha, mereka mendapatkan pengalaman kerja, belajar melayani pelanggan, dan mengasah kemampuan yang dapat menjadi bekal untuk menapaki dunia kerja yang lebih luas.

Salah satu sosok inspiratif di balik usaha tersebut adalah Dika, penyandang disabilitas berusia 21 tahun yang mendapat dukungan penuh dari orang tuanya untuk mengembangkan potensi diri. Dika kemudian berani membuka usaha kuliner sekaligus memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas lainnya untuk bekerja dan berkarya bersama.

Tri Adhianto mengapresiasi inisiatif tersebut sebagai contoh bahwa lingkungan yang memberikan kesempatan dapat membantu penyandang disabilitas tumbuh lebih mandiri.

Menurutnya, semangat inklusivitas perlu diperluas agar kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas tidak berhenti pada usaha mandiri dan UMKM, tetapi juga terbuka di perusahaan, industri, perkantoran, serta berbagai sektor formal lainnya.

“Penyandang disabilitas memiliki kemampuan dan potensi yang bisa dikembangkan. Saya mendorong dunia usaha di Kota Bekasi untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi mereka agar bisa bekerja di sektor formal. Berikan ruang, kesempatan, dan lingkungan kerja yang mendukung, sehingga mereka dapat menunjukkan kemampuan serta berkontribusi secara mandiri,” ujar Tri.

Ia menilai, perluasan kesempatan kerja tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, lembaga pendidikan, hingga komunitas disabilitas. Dunia usaha diharapkan dapat melihat calon pekerja berdasarkan kemampuan, keterampilan, dan kesesuaian dengan kebutuhan pekerjaan, sekaligus menyiapkan lingkungan kerja yang aksesibel.

Pemerintah Kota Bekasi sendiri terus mendorong penguatan kemandirian ekonomi penyandang disabilitas melalui pengembangan UMKM. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pendataan UMKM disabilitas agar mereka dapat tergabung dalam keanggotaan dan memperoleh akses terhadap berbagai program pengembangan usaha.

Pemkot Bekasi juga menyediakan ruang pemasaran melalui kegiatan “Selasa Ceria”, yang memberikan kesempatan bagi pelaku usaha disabilitas untuk berjualan secara bergantian. Upaya ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar sekaligus membantu pelaku usaha mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan.

Di bidang pendidikan dan pengembangan potensi, Pemkot Bekasi turut mendorong perluasan akses pendidikan yang ramah disabilitas, termasuk gagasan menghadirkan sekolah disabilitas di setiap kecamatan. Pembinaan bakat juga dilakukan melalui dukungan terhadap atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI).

Pemkot Bekasi juga menyiapkan pusat pelatihan berjenjang sejak dini bagi penyandang disabilitas yang memiliki bakat dan potensi khusus. Dalam bidang olahraga, atlet disabilitas yang berhasil meraih medali emas diberikan penghargaan berupa bonus sebesar Rp30 juta sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang diraih.

Melalui berbagai upaya tersebut, Pemerintah Kota Bekasi berharap ekosistem yang inklusif dapat terus berkembang. Kesempatan memperoleh pendidikan, pelatihan, pekerjaan, dan berusaha diharapkan semakin terbuka sehingga penyandang disabilitas dapat menentukan masa depannya secara mandiri.

MI-Caf 13% menjadi salah satu contoh bahwa ketika kesempatan diberikan, penyandang disabilitas dapat mengambil peran dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. (Yoyo)

Tuesday, 22 September 2026

DLH KOTA BEKASI LAKUKAN PENGAWASAN PENGELOLAAN AIR LIMBAH USAHA RESTORAN.

Harian umum warta daerah online

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi melakukan pemeriksaan lapangan terhadap salah satu kegiatan usaha restoran/rumah makan sebagai tindak lanjut informasi dan aduan yang disampaikan melalui media online.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi kegiatan usaha, khususnya terkait pengelolaan air limbah domestik serta pemenuhan aspek administrasi lingkungan, tidak hanya itu saja DLH Kota Bekasi juga melakukan pengambilan sampling air permukaan yang berada di sungai Kali Abang 2 Perwira Sari, Kecamatan Bekasi Utara.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, DLH memberikan sejumlah arahan kepada pihak pengelola usaha terkait upaya pengelolaan air limbah agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku, termasuk sarana pengolahan dan pemenuhan baku mutu.

Selanjutnya, DLH Kota Bekasi akan melakukan pemantauan terhadap tindak lanjut dari hasil pemeriksaan tersebut. Pengawasan dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan kegiatan usaha tetap memperhatikan ketentuan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

DLH Kota Bekasi terus mendorong pelaku usaha untuk memenuhi kewajiban pengelolaan lingkungan serta menjaga kualitas lingkungan di sekitar lokasi kegiatan. (Yoyo)

WALIKOTA BEKASI TURUT RESMIKAN GEDUNG B RS SILOAM SENTOSA, PENGUATAN AKSES LAYANAN KESEHATAN MODERN.

Harian umum warta daerah online


RS Siloam Sentosa Hadirkan Layanan SWL dan Laparoskopi, Wali Kota Bekasi: Apresiasi Teknologi Medis Yang Semakin Maju

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto turut meresmikan Gedung B RS Siloam Sentosa di Bekasi Timur, Selasa (22/9/2026). Peresmian tersebut menjadi bagian dari pengembangan fasilitas dan layanan kesehatan di Kota Bekasi, sekaligus pengenalan sejumlah metode penanganan medis dengan teknologi modern.

Momentum peresmian ini turut hadir Caroline Rady selaku CEO dan Wakil Presiden Direktur Siloam Hospitals Group, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi Hadi Prabowo, Camat Bekasi Timur Arie Halimatussadiyyah, serta jajaran lurah di wilayah Kecamatan Bekasi Timur.

Salah satu layanan yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah SWL atau Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL). Metode ini merupakan prosedur non-bedah yang menggunakan gelombang kejut dari luar tubuh untuk membantu memecah batu ginjal atau batu saluran kemih.

Selain SWL, RS Siloam Sentosa juga memperkenalkan layanan laparoskopi. Prosedur ini merupakan tindakan bedah minimal invasif dengan sayatan yang lebih kecil untuk membantu pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan gangguan pada organ di dalam rongga perut atau panggul.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyampaikan apresiasi atas pengembangan fasilitas kesehatan tersebut. Menurutnya, kehadiran layanan dengan teknologi medis yang semakin berkembang dapat menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

“Pemerintah Kota Bekasi tentu menyambut baik pengembangan fasilitas dan layanan kesehatan seperti ini. Kehadiran teknologi medis yang semakin maju diharapkan dapat memberikan lebih banyak pilihan pelayanan bagi masyarakat,” ujar Tri.

Ia juga berharap kolaborasi antara pemerintah dan fasilitas kesehatan terus diperkuat, sehingga pelayanan kesehatan di Kota Bekasi dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Kita ingin masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau, aman, dan terus mengikuti perkembangan teknologi. Karena itu, sinergi dengan rumah sakit dan seluruh tenaga kesehatan menjadi hal yang penting,” katanya.

Sementara itu, Caroline Rady mengatakan pengembangan fasilitas dan layanan di RS Siloam Sentosa merupakan bagian dari komitmen Siloam Hospitals Group untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang terus berkembang.

“Kami ingin terus menghadirkan layanan kesehatan yang didukung teknologi dan tenaga medis yang kompeten, sehingga masyarakat dapat memperoleh pilihan pelayanan yang semakin lengkap,” ujar Caroline.

Pengembangan fasilitas di RS Siloam Sentosa diharapkan dapat semakin memperkuat akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas di Kota Bekasi, khususnya bagi warga di wilayah Bekasi Timur dan sekitarnya. 

Dengan dukungan fasilitas, teknologi medis, serta tenaga kesehatan yang kompeten, kehadiran Gedung B dan layanan seperti SWL serta laparoskopi diharapkan dapat memberikan pilihan penanganan yang lebih beragam sesuai kebutuhan pasien. (Yoyo)